Idul fitri Beda? Tanya kenapa?
Bukan hal yang baru lagi bahwa setiap menjelang datangnya Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha kita selalu dihantui oleh perbedaan pandangan mengenai kapan jatuhnya awal bulan tersebut. Hal ini seolah sudah menjadi tradisi umat Islam di Indonesia bahwa kalau gak beda bukan Indonesia namanya. Menurut para ulama bahwa perbedaan itu adalah rahmat, barangkali karena itulah kita sering beda. Berarti kalau perbedaan adalah rahmat, boleh saya balik berarti kesamaan adalah bencana! Moga-moga tidak demikan.
Kalender Hijriyah
Kalender Hijriyah adalah kalender yang mengacu pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Oleh sebab itulah kalender ini sering disebut kalender komariyah.
Hilal sebagai penentu
Hilal adalah bulan sabit terkecil yang dapat dilihat oleh mata manusia beberapa saat setelah matahari terbenam. Terlihatnya hilal akan didahului peristiwa ijtimak atau konjungsi yaitu saat bulan dan matahari sejajar dalam meridian yang sama yang secara astronomis disebut bulan baru atau new moon.
Di Indonesia setidaknya berlaku tiga atau empat kriteria yang menjadi acuan awal mulainya bulan Hijriyah dimana masing-masing kriteria memiliki pengikut dan organisasi yang tidak sedikit. Masing-masing kriteria itu adalah : Rukyatul Hilal, Imkanurrukyat, Wujudul Hilal dan Rukyat Global.
Penentuan Idul Fitri tahun ini.
Posisi hilal pasca ijtimak akhir Ramadhan berdasarkan hasil hisab modern menggunakan simulator planetarium Starrynight Pro versi 5.8.2 menunjukkan bahwa pada Minggu, 22 Oktober 2006 hilal berada pada ketinggian kritis di wilayah Indonesia sebab ijtimak/konjungsi terjadi pukul 12.14 WIB. Di Jayapura tinggi hilal bahkan minus 1° 16′ saat matahari terbenam yang artinya bulan terbenam lebih dulu dari matahari. Di Yogyakarta hilal baru setinggi 0° 26′ saat matahari terbenam dan di Aceh tinggi hilal 0° 36′ saat matahari terbenam. Adanya kondisi tersebut menyebabkan para pengikut kriteria wujudul hilal menentukan Idul Fitri jatuh pada Senin, 23 Oktober 2006 sementara pemerintah mengganggap belum memenuhi kriteria imkanurrukyat sehingga Idul Fitri pada kalender pemerintah jatuh pada Selasa, 24 Oktober 2006.
Saat terjadi perbedaan tentunya akan membuat masyarakat muslim di Indonesia seakan terpecah.
Perpecahan ini sangat mencolok saat dua organisasi massa Islam terbesar yaitu Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) menentukan berbeda dalam saat mulainya Ramadahan, Idul Fitri dan Idul Adha.
Seolah sudah menjadi tradisi yang turun temurun kita rasakan dengan perbedaan tersebut. Dan ternyata bukan rahmat seperti yang dikatakan melainkan justru bertambahnya jurang pemisah antara massa pendukung ormas tersebut, munculnya sinisme, kebencian bahkan penghinaan terhadap sesama muslim pada segolongan masyarakat, sebuah fakta yang tidak dapat kita pungkiri.
Lalu kapan umat Islam di Indonesia akan bisa terhindar dari khilafiah seperti ini ???
Jawabnya tergantung kepada para elite pimpinan ormas-ormas tersebut untuk saling mau mengalah serta kebijakan pemerintah untuk merumuskan sebuah kriteria tunggal yang disepakati bersama, lebih demi kemaslahatan umat dan menanggalkan perbedaan yang sebenarnya sangat tidak prinsip "kredibilitas organisasi?" yang selalu diagung-agungkan.
Wallahu a’lam.
Iwan.

Leave a Reply