Sudahkan Kita berani jujur ??
Cerita ini hanya ingatanku kembali ke masa kuliah dulu…
Kamis 08.00 BBWI (Maret 2000) sebelum berangkat ke Bandara untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang KP kami, tiba-tiba temen KP ku, namanya Apriadi mengajak padaku.
+ Makan pagi yuk, ajaknya. Oke jawabku.
= So, we go to the canteen near the officce
= Sesampai di luar kantor kami belum ada ide mau makan di mana.
= Ide ke soto Pak Kadi depan kantor pun terpatahkan begitu melihat bahwa
warungnya belum buka
= Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado yang bertempat beberapa gedung
dari tempat kami KPL.(Kerja praktek lapangan).
= Sampai di sana.. memang sudah buka sih…tapi masih sepi.
= Begitu masuk, seperti biasa pelayan sudah menawarkan mau makan apa, minum
apa.
= Kami pesan dua porsi gado-gado + the botol.
= Sambil menunggu pesanan kamipun ngobrol.
=…ketika itu tiba-tiba ada seorang pemuda lusuh datang ke arah kami.
= Kami nggak kaget, " Semir om ?, tanyanya.
….
= Aku lirik sepatuku. Ugh,…kapan ya terakhir aku nyemir sepatuku sendiri ?
= Aku sendiri lupa. Saking lamanya…maklum Aku khan orangnya sok sibuk…padahal
males mungkin..
= Tanpa sadar tanganku membuka sepatu dan memberikannya pada dia.
…
= Dia menerimanya lalu membawanya tepat di pintu ke luar warung
= Tempat itu dengan jelas dapat terlihat oleh kami
=
= Pesanan kamipun datang.
= Kami makan sambil ngobrol. Sambil memperhatikan pemuda tadi nyemir sepatuku.
= Pembicaraanpun bergeser ke pemuda itu.
=
= Kelihatannya Umurnya sekitar umurku (20-an). Terlalu tua untuk menjadi
penyemir sepatu.
= Biasanya pemuda umur segitu kalo tidak jadi tukang parkir or jadi kernet, ya jadi
pak ogah.
=
= Pandangan matanya kosong. Absent minded.
= Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan. Tangannya seperti menyemir
secara otomatis.
= Kadang-kadang matanya melayang ke arah para pengunjung yang sudah mulai
berdatangan …
= Lalu pandangannya kembali kosong.
=
= Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana.
= Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia mandi apa nggak, knapa dia jadi
penyemir, dll.
=
= Kami masih makan saat dia selesai menyemir.
= Dia menyerahkan sepatu yang sudah disemirnya kepadaku.
= Belum lagi dia kubayar, dia bergerak menjauh, …
= menuju orang lain yang sedang duduk di meja paling ujung
=
= Mata kami lekat padanya
= Kami melihatnya mendekati seorang bapak2 kemudian diapun menawarkan jasa.
= Ditolak, lalu dia pergi.
= Kelihatannya dia memendam kesedihan.
= Pergi menuju meja yang lain, ditolak lagi.
= Melangkah dengan gontai ke meja yang lainnya. Menawarkan lagi, ditolak lagi.
= dan setiap kali dia ditolak, sepertinya kami juga merasakan penolakan itu.
= Sepertinya sekarang kami jadi ikut menyelami apa yang dia rasakan.
=
= tiba-tiba kami tersadar.
= Konyol ah… Who said life would be fair anyway…
= Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa semua orang harus menyemir ?
..hihihi…
=
= Perbincanganpun bergeser ke topik lain.
= Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi,
= masih menenteng kotak semirnya di satu tangan ,
= kembali mendapatkan penolakan2 lainnya, bahkan selain mendapat penolakan..
= dia juga mendapatkan pandangan curiga.
= Akhirnya dia terduduk di atas kotak semirnya di depan warung
= tertunduk lesu…
=
= Kamipun selesai makan.
+ Ah iya. Penyemir tadi belum aku bayar.
= Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan dari kantong kemejaku.
= sisa kembalian uang makan…
= Lalu kuberikan kepadanya. Soalnya setahuku jasa nyemir mungkin sekitar 2 rebu
rp.
=
=..Dia berkata kalem…"Kebanyakan om, Lima ratus aja".
+…..BOOOM…..Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku .
+ …It - just - does - not - compute - with - my - logic !!!
=
= bayangkan, orang seperti dia masih berani menolak uang yang bukan hak-nya.
=
= Aku masih terbengong-bengong waktu menerima uang yang dia kembalikan.
= Li-ma-ra-tus Ru-pi-ah. Bisa buat apa sekarang ?
= But, dia merasa cukup dibayar segitu.
=
= Pikiranku tiba-tiba melayang.
= Tiba2 aku merasa ngeri.
= Betapa aku masih sedemikian kerdil.
= Betapa aku masih suka merasa kurang dengan uangku.
= Padahal keadaanku sudah jauh lebih baik dari dia.
=
= Alloh sudah sedemikian baik kepadaku, tapi perilakuku belum seberapa
dibandingkan dengan pemuda itu,
= yang dalam kekurangannya, masih mau memberi, ke aku, yang sudah
berkelebihan.
=
= Pagi ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.
= Pagi ini aku seperti diingatkan….bahwa kejujuran itu adalah hal yang langka…
=
+ Sudahkan Kita berani jujur ?…
+ Kepada diri sendiri ,
+ Kepada orang lain ,
+ Dan kepada maha Pencipta ..????
Kondur Petroleum S.A. - Jakarta
Iwan - 2000.

bagus tulisannya..Pak. Salam untuk isterinya.
mpit said this on December 6, 2005 at 5:47 pm
I don’t know u, but I like your story…
Satrio M.
satrio mahanto said this on April 13, 2006 at 10:49 am
ketika kebanyakan orang takut akan kekurangan sehingga mengambil yang bukan haknya, walau pun mereka sebenarnya kecukupan… disisi lain ternyata masih ada seseorang yang sangat kekurangan tapi takut mengambil selain haknya!! hmmm
semoga orang2 seperti pemuda tadi merupakan orang2 yang paling tinggi derajatnya dimata Allah,SWT.. dibanding dengan orang2 yang merasa derajatnya paling tinggi di dunia..
thx ya tulisannya jd salah satu pelajara hidup saya
-ahmad-
' CallMeMAd ' said this on May 17, 2006 at 10:38 am
saya sering juga ngerasain hal yang sama… ketemu orang2 yang keberuntungannya dalam hidup jauh lebih sedikit dari kita… dan orang seperti itu, sebagian besar memang jujur dan rendah hati..
saya jadi sering tiba2 malu sama diri sendiri…
malu karena selalu mengeluh kekurangan, merasa gak seberuntung temen2 dlm karir, dan sejuta keluhan lainnya…
kalo sudah gitu, biasanya buru2 introspeksi & empati.. sedikit ngerem2 keinginan..
tapi, sering juga masih lupa diri… kalap membelanjakan uang, dengan cepat & nominal bombastis…
itu yang masih sulit…
sharing ceritanya bagus bgt… saya rasa itu bisa jadi pelajaran & cerminan buat diri kita… supaya lebih banyak bersyukur lagi sama Allah SWT.. & supaya lebih tergerak nolong orang2 yang masih kurang beruntung dari kita…
'DOCKIE' said this on May 31, 2006 at 2:56 am